Cinta sangat dibutuhkan dalam membina bangunan rumah tangga. Cinta akan membangkitkan energi-energi dalam jiwa mewujudkan kekuatan dahsyat penopang bangunan rumah tangga. Cinta akan memancarkan cahaya di dalam relung hati untuk menerangi kegelapan jiwa yang bersemayam dalam bangunan rumah tangga. Cinta akan melahirkan keceriaan wajah dua insan dalam biduk rumah tangga. Cinta akan membawa pemiliknya terbang bebas menuju kedamaian sepanjang masa. Cinta akan mengantarkan sepasang hamba menuju keagungan wajahNYA.
Tanpa cinta mustahil bangunan rumah tangga mampu berdiri kokoh. Tanpa cinta tidak mungkin rumah tangga akan terang benderang bersinar. Tanpa cinta tidak akan ada keceriaan dalam bangunan rumah tangga seorang hamba. Tanpa cinta tidak mungkin seorang hamba bisa menggapai kenikmatan melihat keagungan wajahNYA.
Cinta adalah anugerah. Anugerah terindah yang diberikan kepada manusia sepanjang masa. Dengan cinta manusia bisa merasakan kenikmatan dunia. Dengan cinta sepasang suami-istri bisa merasakan kenikmatan surgawi, ketentraman dan kedamaian. Cinta adalah kehidupan. Sehingga tanpa cinta, kehidupan tidak akan pernah punya arti. Kehidupan akan hampa tanpa makna. Cinta adalah surga. Dengan cinta yang benar seorang hamba bisa menggapai surga.
Cinta mesti dijaga agar tidak menjadi bahaya. Bagi sepasang suami-istri yang baru saja menikah, tentunya cukup mudah menjaga cinta tersebut. Karena saat itulah masa-masa berseminya cinta. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, boleh jadi cinta mereka akan meluruh bahkan hilang sama sekali. Ini terjadi karena mereka tidak mampu menjaga bangunan cinta tersebut. Atau boleh jadi ada kemampuan untuk menjaganya, tetapi tidak cukup kemauan diantara keduanya. Atau boleh jadi mereka tidak mampu dan tidak mau menyingkirkan duri-duri cinta berupa godaan dan gangguan oleh para perongrong bangunan cinta tersebut.
Menjaga ikatan cinta memang tidak mudah. Banyak rintangan yang mesti disingkirkan, baik rintangan yang datang secara nyata maupun rintangan yang tersembunyi. Oleh karena itu, hendaknya masing-masing kita senantiasa waspada. Jangan sekali-kali ada dalam niat kita untuk mencoba memutuskan ikatan cinta tersebut. Sebaliknya harus terpelihara niat untuk senantiasa menjaga ikatan cinta seberapapun besar godaannya.
Salah satu yang sering terlupa adalah ungkapan cinta secara verbal, "Aku cinta kamu". Padahal ungkapan verbal ini sangat berperan dalam menjaga ikatan cinta. Yang dimaksud disini adalah ungkapan cinta yang halal, yaitu ungkapan cinta oleh pasangan suami-istri yang sah, bukan ungkapan cinta murahan yang diobral oleh pasangan muda-mudi yang tidak sah. Bukan ungkapan cinta oleh seorang pemuda kepada pacarnya yang diobral di jalan-jalan, lewat telpon dan sms.
Katakan cinta, sekilas sangat sederhana, tetapi sebenarnya punya dampak yang sangat besar dalam menyatukan hati kita. Ungkapan ini tidak hanya dilanggengkan pada awal-awal pernikahan tetapi perlu terus diucapkan setiap saat hingga akhir hayat. Memang terkesan aneh, jika ada seorang Bapak2 atau kakek2 mengatakan ungkapan cinta kepada istrinya yang sudah lanjut. Mungkin akan diketawain orang lain, tetapi kata itulah yang akan membuat senyum istri mereka tersungging meskipun tidak tampak. Hatinya akan berbunga-bunga. Sehingga semangat hidup akan tumbuh penuh optimis.
"Sayang, aku cinta kamu hanya karena Allah". Cukup mudah kalimat ini diucapkan. Tidak memerlukan banyak waktu dalam penyampaiannya. Mengapa kita sulit melakukannya? Bukankah kita ingin hidup bersama pasangan penuh keharmonisan?. Cobalah....., langgengkan ucapan itu setiap saat. Insya Allah ikatan cinta kita akan terjaga hingga akhir hidup kita, bahkan berlanjut hingga ke syurga.
Katakan cinta, niscaya hidup kan bahagia. Senyum diantara kita akan terus mengembang. Canda tawa akan terus menjadi bumbu kehangatan rumah tangga. Keceriaan akan menghias hari-hari bersama diantara kita. Optimisme akan lahir dalam jiwa-jiwa kita, berpadu dalam membangun kekokohan rumah tangga. Energi cinta positif akan menjadi kekuatan terdahsyat penopang bangunan rumah tangga.
Jangan ragu dan bimbang, selalu katakan "I love you because of Allah" pada pasangan hidup Anda, insya Allah bahagia kan mudah diraih.
Selamat menempuh hidup baru
Semoga keberkahan senantiasa meliputi hidup kita
amiiin......
Salam bahagia
MM&FF
Friday, April 3, 2009
Wednesday, March 25, 2009
Nasihat Qur'ani tentang Penikahan
Bismillahirrahmaanirahiim
Dengan kerendahan hati mari kita simak pesan2 Al-qur'an
tentang tujuan hidup yang sebenarnya
Nasehat ini untuk semuanya ...........
Untuk mereka yang sudah memiliki arah.........
Untuk mereka yang belum memiliki arah.........
dan untuk mereka yang tidak memiliki arah.
nasehat ini untuk semuanya.......
Semua yang menginginkan kebaikan.
Saudaraku.............
Nikah itu ibadah.......
Nikah itu suci, ingat itu......
Memang nikah itu bisa karena harta,
bisa karena kecantikan,
bisa karena keturunan dan bisa karena agama.
Jangan engkau jadikan harta, ketutunan dan kecantikan
semata-mata sebagai alasan...
karena semua itu akan menyebabkan celaka.
Jadikan agama sebagai alasan........
Engkau akan mendapatkan kebahagiaan.
Saudaraku..........
Tidak dipungkiri bahwa keluarga terbentuk karena cinta....
Namun......jika cinta engkau jadikan sebagai landasan,
maka keluargamu akan rapuh, akan mudah hancur.
Jadikanlah "ALLAH" sebagai landasan...
Niscaya engkau akan selamat
Tidak saja dunia, tapi juga di akherat...
Jadikanlah ridho Allah sebagai tujuan...
Niscaya mawaddah, sakinah dan rahmah akan tercapai.
Saudaraku...........
Jangan engkau menginginkan menjadi raja dalam "istanamu"......
disambut istri ketika datang dan dilayani segala kebutuhan.......
Jika ini kau lakukan "istanamu" tidak akan langgeng.....
Lihatlah manusia ter-agung Rasulullah saw....
tidak marah ketika harus tidur di depan pintu,
beralaskan sorban, karena sang istri tercinta tidak
mendengar kedatangannya.
Tetap tersenyum meski tidak mendapatkan makanan
tersaji dihadapannya ketika lapar...
Menjahit bajunya yang robek...
Saudaraku...
Jangan engkau menginginkan menjadi ratu dalam "istanamu "...
Disayang, dimanja dan dilayani suami...
Terpenuhi apa yang menjadi keinginanmu...
Jika itu engkau lakukan
"istanamu" akan menjadi neraka bagimu
Saudaraku...
Jangan engkau terlalu cinta kepada istrimu...
Jangan engkau terlalu menuruti istrimu...
Jika itu engaku lakukan akan celaka...
Engaku tidak akan dapat melihat yang hitam dan yang putih,
tidak akan dapat melihat yang benar dan yang salah...
Lihatlah bagaimana Allah menegur "Nabi"-mu
tatkala mengharamkan apa yang Allah halalkan
hanya karena menuruti kemauan sang istri.
Tegaslah terhadap istrimu...
Dengan cintamu, ajaklah dia taat kepada Allah...
Jangan biarkan dia dengan kehendaknya...
Lihatlah bagaimana istri Nuh dan Luth...
Di bawah bimbingan manusia pilihan,
justru mereka menjadi penentang...
Istrimu bisa menjadi musuhmu...
Didiklah istrimu...
Jadikanlah dia sebagai Hajar,
wanita utama yang loyal terhadap tugas suami, Ibrahim.
Jadikan dia sebagai Maryam,
wanita utama yang bisa menjaga kehormatannya......
Jadikan dia sebagai Khadijah,
wanita utama yang bisa mendampingi sang suami
Rasulullah saw menerima tugas risalah.....
Istrimu adalah tanggung jawabmu...
Jangan kau larang mereka taat kepada Allah...
Biarkan mereka menjadi wanita shalilah....
Biarkan mereka menjadi Hajar atau Maryam...
Jangan kau belenggu mereka dengan egomu...
Saudariku...
Jika engkau menjadi istri...
Jangan engkau paksa suamimu menurutimu...
Jangan engkau paksa suamimu melanggar Allah...
siapkan dirimu untuk menjadi Hajar,
yang setia terhadap tugas suami...
Siapkan dirimu untuk menjadi Maryam,
yang bisa menjaga kehormatannya...
Siapkan dirimu untuk menjadi Khadijah,
yang bisa yang bisa mendampingi suami menjalankan misi.
Jangan kau usik suamimu dengan rengekanmu....
Jangan kau usik suamimu dengan tangismu....
Jika itu kau lakukan...
Kecintaannya terhadapmu akan memaksanya menjadi pendurhaka...
jangan...
Saudaraku...
Jika engaku menjadi Bapak...
Jadilah bapak yang bijak seperti Lukmanul Hakim
Jadilah bapak yang tegas seperti Ibrahim
Jadilah bapak yang kasih seperti Rasulullah saw
Ajaklah anak-anakmu mengenal Allah...
Ajaklah mereka taat kepada Allah...
Jadikan dia sebagai Yusuf yang berbakti...
Jadikan dia sebagai Ismail yang taat...
Jangan engkau jadikan mereka sebagai Kan'an yang durhaka.
Mohonlah kepada Allah...
Mintalah kepada Allah,
agar mereka menjadi anak yang shalih...
Anak yang bisa membawa kebahagiaan.
Saudaraku...
Jika engkau menjadi ibu...
Jadilah engaku ibu yang bijak, ibu yang teduh...
Bimbinglah anak-anakmu dengan air susumu...
Jadikanlah mereka mujahid...
Jadikanlah mereka tentara-tentara Allah...
Jangan biarkan mereka bermanja-manja...
Jangan biarkan mereka bermalas-malas...
Siapkan mereka untuk menjadi hamba yang shalih...
Hamba yang siap menegakkan Risalah Islam.
Sumber
tentang-pernikahan.com
Dengan kerendahan hati mari kita simak pesan2 Al-qur'an
tentang tujuan hidup yang sebenarnya
Nasehat ini untuk semuanya ...........
Untuk mereka yang sudah memiliki arah.........
Untuk mereka yang belum memiliki arah.........
dan untuk mereka yang tidak memiliki arah.
nasehat ini untuk semuanya.......
Semua yang menginginkan kebaikan.
Saudaraku.............
Nikah itu ibadah.......
Nikah itu suci, ingat itu......
Memang nikah itu bisa karena harta,
bisa karena kecantikan,
bisa karena keturunan dan bisa karena agama.
Jangan engkau jadikan harta, ketutunan dan kecantikan
semata-mata sebagai alasan...
karena semua itu akan menyebabkan celaka.
Jadikan agama sebagai alasan........
Engkau akan mendapatkan kebahagiaan.
Saudaraku..........
Tidak dipungkiri bahwa keluarga terbentuk karena cinta....
Namun......jika cinta engkau jadikan sebagai landasan,
maka keluargamu akan rapuh, akan mudah hancur.
Jadikanlah "ALLAH" sebagai landasan...
Niscaya engkau akan selamat
Tidak saja dunia, tapi juga di akherat...
Jadikanlah ridho Allah sebagai tujuan...
Niscaya mawaddah, sakinah dan rahmah akan tercapai.
Saudaraku...........
Jangan engkau menginginkan menjadi raja dalam "istanamu"......
disambut istri ketika datang dan dilayani segala kebutuhan.......
Jika ini kau lakukan "istanamu" tidak akan langgeng.....
Lihatlah manusia ter-agung Rasulullah saw....
tidak marah ketika harus tidur di depan pintu,
beralaskan sorban, karena sang istri tercinta tidak
mendengar kedatangannya.
Tetap tersenyum meski tidak mendapatkan makanan
tersaji dihadapannya ketika lapar...
Menjahit bajunya yang robek...
Saudaraku...
Jangan engkau menginginkan menjadi ratu dalam "istanamu "...
Disayang, dimanja dan dilayani suami...
Terpenuhi apa yang menjadi keinginanmu...
Jika itu engkau lakukan
"istanamu" akan menjadi neraka bagimu
Saudaraku...
Jangan engkau terlalu cinta kepada istrimu...
Jangan engkau terlalu menuruti istrimu...
Jika itu engaku lakukan akan celaka...
Engaku tidak akan dapat melihat yang hitam dan yang putih,
tidak akan dapat melihat yang benar dan yang salah...
Lihatlah bagaimana Allah menegur "Nabi"-mu
tatkala mengharamkan apa yang Allah halalkan
hanya karena menuruti kemauan sang istri.
Tegaslah terhadap istrimu...
Dengan cintamu, ajaklah dia taat kepada Allah...
Jangan biarkan dia dengan kehendaknya...
Lihatlah bagaimana istri Nuh dan Luth...
Di bawah bimbingan manusia pilihan,
justru mereka menjadi penentang...
Istrimu bisa menjadi musuhmu...
Didiklah istrimu...
Jadikanlah dia sebagai Hajar,
wanita utama yang loyal terhadap tugas suami, Ibrahim.
Jadikan dia sebagai Maryam,
wanita utama yang bisa menjaga kehormatannya......
Jadikan dia sebagai Khadijah,
wanita utama yang bisa mendampingi sang suami
Rasulullah saw menerima tugas risalah.....
Istrimu adalah tanggung jawabmu...
Jangan kau larang mereka taat kepada Allah...
Biarkan mereka menjadi wanita shalilah....
Biarkan mereka menjadi Hajar atau Maryam...
Jangan kau belenggu mereka dengan egomu...
Saudariku...
Jika engkau menjadi istri...
Jangan engkau paksa suamimu menurutimu...
Jangan engkau paksa suamimu melanggar Allah...
siapkan dirimu untuk menjadi Hajar,
yang setia terhadap tugas suami...
Siapkan dirimu untuk menjadi Maryam,
yang bisa menjaga kehormatannya...
Siapkan dirimu untuk menjadi Khadijah,
yang bisa yang bisa mendampingi suami menjalankan misi.
Jangan kau usik suamimu dengan rengekanmu....
Jangan kau usik suamimu dengan tangismu....
Jika itu kau lakukan...
Kecintaannya terhadapmu akan memaksanya menjadi pendurhaka...
jangan...
Saudaraku...
Jika engaku menjadi Bapak...
Jadilah bapak yang bijak seperti Lukmanul Hakim
Jadilah bapak yang tegas seperti Ibrahim
Jadilah bapak yang kasih seperti Rasulullah saw
Ajaklah anak-anakmu mengenal Allah...
Ajaklah mereka taat kepada Allah...
Jadikan dia sebagai Yusuf yang berbakti...
Jadikan dia sebagai Ismail yang taat...
Jangan engkau jadikan mereka sebagai Kan'an yang durhaka.
Mohonlah kepada Allah...
Mintalah kepada Allah,
agar mereka menjadi anak yang shalih...
Anak yang bisa membawa kebahagiaan.
Saudaraku...
Jika engkau menjadi ibu...
Jadilah engaku ibu yang bijak, ibu yang teduh...
Bimbinglah anak-anakmu dengan air susumu...
Jadikanlah mereka mujahid...
Jadikanlah mereka tentara-tentara Allah...
Jangan biarkan mereka bermanja-manja...
Jangan biarkan mereka bermalas-malas...
Siapkan mereka untuk menjadi hamba yang shalih...
Hamba yang siap menegakkan Risalah Islam.
Sumber
tentang-pernikahan.com
Monday, March 23, 2009
Dakwah Keluarga, Satu hal yang sering kita lupa
Mendasarkan pada karakteristik periode Jahriyatud Da’wah dan Sirriyatut Tandzim poin pertama yakni da’wah kepada keluarga dekat.
Menurut pendapat kami, da’wah saat ini berada pada fase jahriyatud da’wah wa sirriyatut tandzim, dimana gerakan da’wah telah bebas nyata bergerak di dalam masyarakat, dengan jahrnya kita biasa mengatakan liqo’ di arena terbuka misalnya. Namun, hakikat tandzim belum dibuka secara umum. Keluar dari persolan di atas, dan memfokuskan pada persoalan da’wah keluarga sebagai karakteristik periode ini. Husain Muhammad Yusuf dalam bukunya Ahdaf Al Usrah Fil Islam menjelaskan, keluarga adalah batu pertama dalam membangun Negara. Menurutnya, sejauh mana keluarga dalam suatu Negara memiliki kekuatan yang ditegakkan pada landasan nilai, maka sejauh itu pula Negara tersebut memiliki kemuliaan dan gambaran moralitas dalam masyarakatnya. (Majalah Ummi, Sarah Handayani.No.10/XVI Februari 2005/1425 H)
Melihat realita yang ada saat ini, amanah da’wah yang semakin bertambah membuat sebagian besar waktu kita tersita di luar rumah, di masyarakat kita begitu gencar menyuarakan kebaikan, tapi terkadang kita lupakan keluarga kita, sudah sholatkah ibu bapak kita, sudah memakai jilbabkah ibu dan saudara perempuan kita, bagaimana kondisi keimanan kakak dan adik kita, terkadang tak pernah ada di benak kita. Sebagai aktivis da’wah sekolah, saya seringkali melihat kasus-kasus para aktivis yang begitu energik di luaran, di semua amanah da’wahnya, bahkan semua terplaning dengan rapi, tetapi ia tak membuat planing-planing serapi itu untuk keluarganya.
Fungsi tarbiyah dalam keluarga menjadi sangat vital untuk mempersiapkan masa depan umat. Seluruh anggota keluarga harus mendapatkan sentuhan tarbiyah untuk menghantarkan mereka menuju optimalisasi peran dalam membangun peradaban Islam yang diharapkan. Keluraga menjadi laboratorium perdaban.( Majalah Ummi, Sarah Handayani.No.10/XVI Februari 2005/1425H.)
Tidak bermaksud menyalahkan siapa pun tetapi hanya mencoba introspeksi diri dan koreksi bersama, tentang hal vital ini. Tidak hanya aktivis muda saja yang menjadi perhatian, para abi umi yang menjadi aktivis juga menjadi sorotan, terkadang karena kesibukan amanah membuat anak menjadi kurang merasakan kasih sayang, mereka sering terlambat dijemput dari sekolah yang sudah full day, mereka jarang mendapatkan sentuhan sayang dari umminya, seringkali mereka harus diajak pergi dengan kondisi yang masih belepotan, belum dimandikan, atau bahkan akhirnya dititipkan ke tetangga. Begitu juga dengan kondisi rumah yang seringkali ditinggal dengan kondisi masih berantakan, belum dibersihkan. Ini seakan menjadi profil aktivis da’wah saat ini, bukankah aktivis da’wah melakukan da’wahnya dimana saja dia berada, bahkan persolan mengurus anak dan membersihkan rumah pun bisa menjadi da’wah, yang pertama melihat kita adalah tetangga kita, apa respon mereka jika sebuah keluarga muslim yang ada di tengah-tengah mereka tak memberikan contoh yang baik, rumah yang selalu rapi dan bersih, anak-anak yang sholih, betapa hal ini justru akan lebih mudah menyentuh hati masyarakat sekitar untuk mau menerima da’wah kita, da’i adalah contoh, uswah, dan teladan bagi orang-orang di sekelilingnya. Memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa profil seorang muslim yang cinta kebersihan itu benar-benar nyata.
Dengan melihat beberapa kasus, di da’wah sekolah, dengan kondisi anak ikhwah justru lebih sulit disentuh daripada anak sesorang yang masih amah, ini menjadi pertanyaan besar bagi kami, mengapa mereka tak ingin menjadi seperti kedua orang tua mereka? Mengapa mereka merasa bosan dengan pendidikan berkarakter religius? Analisis awal adalah banyak di antara mereka kecewa dengan orangtua mereka yang tak pernah punya waktu untuk mereka, betapa tidak mereka sudah seharian berada di luar rumah dengan dimasukkan ke full day school, terkadang malam mereka belum bertemu abi uminya, ditambah seringnya mereka terlambat dijemput, tak pernah ditanya apa yang mereka rasakan di sekolah, di sekolah mereka ditekan dengan berbagai pelajaran. Tentu saja ini tidak general, hanya beberapa contoh kasus saja. Bahkan mendidik anak perempuan untuk memakai jilbab syar’i menjadi hal yang sulit saat ini, ketika mereka tak pernah difahamkan oleh uminya tentang urgensi berjilbab syar’i. Hal-hal semacam ini hanya akan bisa terjadi pada anak yang memiliki kedekatan dengan uminya, punya banyak waktu untuk berkomunikasi dengan uminya, kalaupun sedikit, waktu itu sangat efektif.
Tujuan kita berkeluarga adalah membentuk generasi-generasi yang lebih baik dari kita, kalupun tidak bisa paling tidak, bisa menjadi seperti orangtuanya. Begitu juga dengan aktivis muda seperti kami, yang punya tugas besar membenahi orang-orang terdekat kita agar bisa menjadi sahabat perjuangan da’wah kita dimanapun, paling tidak menjadi sebuah proyek untuk menyelamatkan mereka dari siksa neraka..menjadi introspeksi bersama..betapa indah jika setiap anggota keluarga kita mampu memberikan kontribusi untuk da’wah. Meskipun hanya dengan menjadi contoh dan teladan bagi orang-orang di sekelilingnya.Menjadi harapan bersama..
Bukankah kita bercita-cita menegakkan syari’at Islam di Negara Indonesia ini, da’wah keluarga menjadi satu tangga dasar untuk mewujudkan tegaknya cita-cita kita..dengan merealisasikan konsep maratibul amal. Wallahu a’lam
(Purnastri Afif Adiba)
Menurut pendapat kami, da’wah saat ini berada pada fase jahriyatud da’wah wa sirriyatut tandzim, dimana gerakan da’wah telah bebas nyata bergerak di dalam masyarakat, dengan jahrnya kita biasa mengatakan liqo’ di arena terbuka misalnya. Namun, hakikat tandzim belum dibuka secara umum. Keluar dari persolan di atas, dan memfokuskan pada persoalan da’wah keluarga sebagai karakteristik periode ini. Husain Muhammad Yusuf dalam bukunya Ahdaf Al Usrah Fil Islam menjelaskan, keluarga adalah batu pertama dalam membangun Negara. Menurutnya, sejauh mana keluarga dalam suatu Negara memiliki kekuatan yang ditegakkan pada landasan nilai, maka sejauh itu pula Negara tersebut memiliki kemuliaan dan gambaran moralitas dalam masyarakatnya. (Majalah Ummi, Sarah Handayani.No.10/XVI Februari 2005/1425 H)
Melihat realita yang ada saat ini, amanah da’wah yang semakin bertambah membuat sebagian besar waktu kita tersita di luar rumah, di masyarakat kita begitu gencar menyuarakan kebaikan, tapi terkadang kita lupakan keluarga kita, sudah sholatkah ibu bapak kita, sudah memakai jilbabkah ibu dan saudara perempuan kita, bagaimana kondisi keimanan kakak dan adik kita, terkadang tak pernah ada di benak kita. Sebagai aktivis da’wah sekolah, saya seringkali melihat kasus-kasus para aktivis yang begitu energik di luaran, di semua amanah da’wahnya, bahkan semua terplaning dengan rapi, tetapi ia tak membuat planing-planing serapi itu untuk keluarganya.
Fungsi tarbiyah dalam keluarga menjadi sangat vital untuk mempersiapkan masa depan umat. Seluruh anggota keluarga harus mendapatkan sentuhan tarbiyah untuk menghantarkan mereka menuju optimalisasi peran dalam membangun peradaban Islam yang diharapkan. Keluraga menjadi laboratorium perdaban.( Majalah Ummi, Sarah Handayani.No.10/XVI Februari 2005/1425H.)
Tidak bermaksud menyalahkan siapa pun tetapi hanya mencoba introspeksi diri dan koreksi bersama, tentang hal vital ini. Tidak hanya aktivis muda saja yang menjadi perhatian, para abi umi yang menjadi aktivis juga menjadi sorotan, terkadang karena kesibukan amanah membuat anak menjadi kurang merasakan kasih sayang, mereka sering terlambat dijemput dari sekolah yang sudah full day, mereka jarang mendapatkan sentuhan sayang dari umminya, seringkali mereka harus diajak pergi dengan kondisi yang masih belepotan, belum dimandikan, atau bahkan akhirnya dititipkan ke tetangga. Begitu juga dengan kondisi rumah yang seringkali ditinggal dengan kondisi masih berantakan, belum dibersihkan. Ini seakan menjadi profil aktivis da’wah saat ini, bukankah aktivis da’wah melakukan da’wahnya dimana saja dia berada, bahkan persolan mengurus anak dan membersihkan rumah pun bisa menjadi da’wah, yang pertama melihat kita adalah tetangga kita, apa respon mereka jika sebuah keluarga muslim yang ada di tengah-tengah mereka tak memberikan contoh yang baik, rumah yang selalu rapi dan bersih, anak-anak yang sholih, betapa hal ini justru akan lebih mudah menyentuh hati masyarakat sekitar untuk mau menerima da’wah kita, da’i adalah contoh, uswah, dan teladan bagi orang-orang di sekelilingnya. Memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa profil seorang muslim yang cinta kebersihan itu benar-benar nyata.
Dengan melihat beberapa kasus, di da’wah sekolah, dengan kondisi anak ikhwah justru lebih sulit disentuh daripada anak sesorang yang masih amah, ini menjadi pertanyaan besar bagi kami, mengapa mereka tak ingin menjadi seperti kedua orang tua mereka? Mengapa mereka merasa bosan dengan pendidikan berkarakter religius? Analisis awal adalah banyak di antara mereka kecewa dengan orangtua mereka yang tak pernah punya waktu untuk mereka, betapa tidak mereka sudah seharian berada di luar rumah dengan dimasukkan ke full day school, terkadang malam mereka belum bertemu abi uminya, ditambah seringnya mereka terlambat dijemput, tak pernah ditanya apa yang mereka rasakan di sekolah, di sekolah mereka ditekan dengan berbagai pelajaran. Tentu saja ini tidak general, hanya beberapa contoh kasus saja. Bahkan mendidik anak perempuan untuk memakai jilbab syar’i menjadi hal yang sulit saat ini, ketika mereka tak pernah difahamkan oleh uminya tentang urgensi berjilbab syar’i. Hal-hal semacam ini hanya akan bisa terjadi pada anak yang memiliki kedekatan dengan uminya, punya banyak waktu untuk berkomunikasi dengan uminya, kalaupun sedikit, waktu itu sangat efektif.
Tujuan kita berkeluarga adalah membentuk generasi-generasi yang lebih baik dari kita, kalupun tidak bisa paling tidak, bisa menjadi seperti orangtuanya. Begitu juga dengan aktivis muda seperti kami, yang punya tugas besar membenahi orang-orang terdekat kita agar bisa menjadi sahabat perjuangan da’wah kita dimanapun, paling tidak menjadi sebuah proyek untuk menyelamatkan mereka dari siksa neraka..menjadi introspeksi bersama..betapa indah jika setiap anggota keluarga kita mampu memberikan kontribusi untuk da’wah. Meskipun hanya dengan menjadi contoh dan teladan bagi orang-orang di sekelilingnya.Menjadi harapan bersama..
Bukankah kita bercita-cita menegakkan syari’at Islam di Negara Indonesia ini, da’wah keluarga menjadi satu tangga dasar untuk mewujudkan tegaknya cita-cita kita..dengan merealisasikan konsep maratibul amal. Wallahu a’lam
(Purnastri Afif Adiba)
Apa yang mesti kita perbuat untuk generasi ini?
Berikut analisis kondisi generasi masa kini:
1. Butuh perhatian lebih dari abi uminya, sejak kecil perhatian khusus untuk mereka kurang optimal terutama dari ibu. Pembagian peran suami-istri dalam keluarga mutlak dilakukan, meski bukan berarti wanita buta dengan kondisi umat. Dalam dakwah sekolah aja ada pembagian peran satu di local satu di global dengan tetap ada bagian memikirkan satu sama lain.., terkadang konsep kita untuk orang lain lebih kita utamakan/lebih baik & keren dibandingkan dengan konsep yang akan kita bagun di keluarga kita. Siapa yang bisa menyelamtkan kita di akhirat? anak kita kan??? Tentu dengan do’a mereka, lalu jika mereka tidak tumbuh dengan sholih hanya karena kecewa pada kita siapa yang akan mendo’akan kita belum lagi ditambah tanggung jawab kita pada Allah atas amanah ini.. apalagi jika punya banyak anak..
2. Banyak yang kecewa dan tak ingin memilih jalan seperti pilihan walidainnya why?? sering bahasa kasarnya ditelantarkan. Cth : terlambat dijemput, bahkan lupa njemput karena kedua orangtuanya sibuk dengan dunianya, kurangnya pendampingan dalam pengerjaan tugas-tugas sekolah, sejak kecil orang tua memberikan perhatian secara bercabang pada mereka, disusui disambi ngisi kajian padahal masa ini adalah masa terpenting untuk anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangannya (kata ummahat psikolog lho ini..), beberapa bahkan tidak diperhatikan kerapian penampilan, anak ikhwah identik dengan penampilan kumuh, beringus, gatal kulit, dan baju kotor, rumah kotor). PR kita nanti!!
3. Bosan dengan rutinitas mereka terutama yang sekolah di full day school, bahkan boarding..dengan aktifitas pembelajaran yang sangat padat ditambah perhatian yang tidak lagi intensif coz dah kebanyakan murid..
4. Tidak pernah ada waktu untuk sekedar share dengan kedua orangtuanya why??temen2 pasti tahu jawabannya…kedua orangtuanya sibuk syuro..bahkan sejak pagi pagi buta harus sudah ditinggal dan dititipkan ke orang lain..tawadzun itu penting.. Quu anfusakum wa ahliikum naaro
5. Memiliki kekurangan dalam kemampuan bermasyarakat karena terbiasa dengan lingkungan yang selalu berorientasi akhirat, dilarang untuk melihat dunia.akibatnya jadi ngerasa sudah baik di sisi kafa’ah diniayah dan meremehkan orang luar yang menyampaikan Islam kepadanya.Bangga dengan kelompok seganknya..
6. Tapi kondisi saat ini tidak selalu begitu coz sekolah-sekolah berbasis IslamTerpadu pun sudah campur dengan orang amah yang tentu saja memberikan pengaruh baru pada anak-anak ikhwah Example : jadi tahu dan hafal lagu ga jelas, jadi kolektor game computer meski harus dengan sembunyi-sembunyi dari orangtuanya, bacaan yang kadang bukan jadi konsumsi mereka contoh : bacaan dewasa (ayat,ayat cinta, birunya langit cinta,jatuh bangun cintaku, dll)semakin hanya buku yang bisa ia konsumsi karena ada batasan gerak dari orang tuanya semakin besar rasa ingin tahu akan hal-hal yang belum saatnya mereka tahu.dah tahu istilah pacaran, apel ke tempet pacar, seneng dengan jilbab gaul,ga mau pake rok, apalagi kaos kaki, males bergaul dengan temen-temen yang sholih.
7. Ada potensi besar di tiap pribadi mereka tapi belum dioptimalkan oleh jama’ah. Ex: tahfidz, tahsin, bahasa arab,dll) sebagian besar mereka juga cerdas terutama angkatan awal lulusan Islam Terpadu angkatan sekarang wallahu a’lam..
Analisis di atas masih harus difikirkan solisinya, analisis memang mudah tapi menjalankannya tak semudah yang dibayangkan tapi insya Allah jika ada planning yang jelas akan lebih mudah merealisasikannya.
(Purnastri Afif Adiba)
1. Butuh perhatian lebih dari abi uminya, sejak kecil perhatian khusus untuk mereka kurang optimal terutama dari ibu. Pembagian peran suami-istri dalam keluarga mutlak dilakukan, meski bukan berarti wanita buta dengan kondisi umat. Dalam dakwah sekolah aja ada pembagian peran satu di local satu di global dengan tetap ada bagian memikirkan satu sama lain.., terkadang konsep kita untuk orang lain lebih kita utamakan/lebih baik & keren dibandingkan dengan konsep yang akan kita bagun di keluarga kita. Siapa yang bisa menyelamtkan kita di akhirat? anak kita kan??? Tentu dengan do’a mereka, lalu jika mereka tidak tumbuh dengan sholih hanya karena kecewa pada kita siapa yang akan mendo’akan kita belum lagi ditambah tanggung jawab kita pada Allah atas amanah ini.. apalagi jika punya banyak anak..
2. Banyak yang kecewa dan tak ingin memilih jalan seperti pilihan walidainnya why?? sering bahasa kasarnya ditelantarkan. Cth : terlambat dijemput, bahkan lupa njemput karena kedua orangtuanya sibuk dengan dunianya, kurangnya pendampingan dalam pengerjaan tugas-tugas sekolah, sejak kecil orang tua memberikan perhatian secara bercabang pada mereka, disusui disambi ngisi kajian padahal masa ini adalah masa terpenting untuk anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangannya (kata ummahat psikolog lho ini..), beberapa bahkan tidak diperhatikan kerapian penampilan, anak ikhwah identik dengan penampilan kumuh, beringus, gatal kulit, dan baju kotor, rumah kotor). PR kita nanti!!
3. Bosan dengan rutinitas mereka terutama yang sekolah di full day school, bahkan boarding..dengan aktifitas pembelajaran yang sangat padat ditambah perhatian yang tidak lagi intensif coz dah kebanyakan murid..
4. Tidak pernah ada waktu untuk sekedar share dengan kedua orangtuanya why??temen2 pasti tahu jawabannya…kedua orangtuanya sibuk syuro..bahkan sejak pagi pagi buta harus sudah ditinggal dan dititipkan ke orang lain..tawadzun itu penting.. Quu anfusakum wa ahliikum naaro
5. Memiliki kekurangan dalam kemampuan bermasyarakat karena terbiasa dengan lingkungan yang selalu berorientasi akhirat, dilarang untuk melihat dunia.akibatnya jadi ngerasa sudah baik di sisi kafa’ah diniayah dan meremehkan orang luar yang menyampaikan Islam kepadanya.Bangga dengan kelompok seganknya..
6. Tapi kondisi saat ini tidak selalu begitu coz sekolah-sekolah berbasis IslamTerpadu pun sudah campur dengan orang amah yang tentu saja memberikan pengaruh baru pada anak-anak ikhwah Example : jadi tahu dan hafal lagu ga jelas, jadi kolektor game computer meski harus dengan sembunyi-sembunyi dari orangtuanya, bacaan yang kadang bukan jadi konsumsi mereka contoh : bacaan dewasa (ayat,ayat cinta, birunya langit cinta,jatuh bangun cintaku, dll)semakin hanya buku yang bisa ia konsumsi karena ada batasan gerak dari orang tuanya semakin besar rasa ingin tahu akan hal-hal yang belum saatnya mereka tahu.dah tahu istilah pacaran, apel ke tempet pacar, seneng dengan jilbab gaul,ga mau pake rok, apalagi kaos kaki, males bergaul dengan temen-temen yang sholih.
7. Ada potensi besar di tiap pribadi mereka tapi belum dioptimalkan oleh jama’ah. Ex: tahfidz, tahsin, bahasa arab,dll) sebagian besar mereka juga cerdas terutama angkatan awal lulusan Islam Terpadu angkatan sekarang wallahu a’lam..
Analisis di atas masih harus difikirkan solisinya, analisis memang mudah tapi menjalankannya tak semudah yang dibayangkan tapi insya Allah jika ada planning yang jelas akan lebih mudah merealisasikannya.
(Purnastri Afif Adiba)
Urgensi & Harapan Pernikahan
Menikah, sebuah kata yang menjadi impian setiap manusia, namun ia juga menjadi tantangan berat dalam perjalanan kedewasaan seseorang. Ia datang bagai maut, begitu tiba-tiba, mau tidak mau kita harus selalu siap kapanpun ia dihadirkan Allah untuk kita.
Harapan yang pernah terukir di awal kedewasaan hidup mulai menyapa kekosongan jiwa adalah, jika aku punya suami, aku ingin suami yang dekat dengan Allah, takut kepada Allah, anti maksiat, bacaan Qur’an dan tahsin, tahfidznya minimal 3juz biar bisa muraja’ah bareng, Qiyamullail tiap hari biar bisa saling mengingatkan dan jama’ah, bisa jadi partner yang bisa bekerjasama dengan baik, lelaki yang sabar, penuh rahmah, bijak, dewasa, tidak mudah main tangan, bentak juga jangan, yang bisa mengajariku mengeja kesabaran dalam bersikap dan bertutur, mau berbagi pekerjaan rumah tangga, sholat jama’ah 5 waktu di masjid menjadi komitmen, satu misi melahirkan generasi qur’ani dan rabbani, trus pengen punya suami yang pinter Bahasa Arab pengen belajar intensif belum sempat. Itu idealita teknis yang ingiin sekali kuwujudkan. Semakin luas ketika kuselesaikan membaca Ada Cinta di Rumah Hasan Al-Banna
Trus punya cita2 bisa tahfidzul qur’an bareng, fastabiqul khoirot, dekat dengan lingkungan qur’ani punya komunitas sholih..jika belum ada ya diperjuangkan bisa membangun, trus pengen punya pesantren, pasti kangen dengan jadi aktifitas da’wah sekolah, ngurus anak-anak SMA atau SMP..sudah terbayang konsepnya tapi belum tertulis jelas tapi sekarang sedang belajar mengeja dinamika pesantren, dan bagaimana mengelolanya dengan maksimal.
Aku gadis biasa yang punya banyak kekurangan, tak pantas rasanya jika minta diberikan yang paling sempurna, aku hanya mensyaratkan iman, qur’an, keistiqomahan, iltizam, dan kedewasaan, serta cita-cita yang panjang hingga berujung di akhirat..
Aku ingin dan berharap keluarga yang kubangun nanti adalah keluarga qur’ani, keluarga yang menjadi syurga di dunia, suami yang menempatakan Allah di atas segalanya, tawadhu’, ikhlash, dan bukan orang yang emosional, yang selalu bisa menjadi imam bagiku dalam Al-Qur’an, yang ilmu akhiratnya lebih luas dariku, dan bisa menghargai kerja-kerja jihadku di lapangan da’wah.
Fisik bukan jadi standart utamaku, yang kulihat adalah kualitas pribadi sesosok yang akan kuterima dalam hidupku. Setiap orang pasti punya kekurangan, punya kelebihan, dan semuanya adalah karunia Allah yang terbaik bagi kita. Satu yang sama sekali tidak kuinginkan adalah terjun ke dunia politik secara terang-terangan maksudnya masuk ke legislative apapun alasannya lulusan sosiologi sekalipun aku tidak pernah punya keinginan ke sana, banyak amanah yang Allah lebih janjikan syurga, terlalu banyak cobaan dan godaan untuk hubbuddunya ketika memasukinya, ditambah lagi dimana peranku sebagai ibu akan kutempatkan jika semua waktuku kuhabiskan di luar rumah?
Harapanku, semoga ku bisa jadi ummi para mujahid dan mujahidah, mendidik mereka dengan hati dan Al-Qur’an, dan ku berharap suamiku adalah imam bagiku dalam hal ini, suami yang selalu bisa terbuka dalam semua kondisi hidupnya, mau berbagi beban, terbuka dalam segala hal, menguatkan komunikasi, dan penuh kasih sayang, dan mau menerima kekuranganku. Manjadikanku sayap kirinya ketika terbang, dan menjadi rem kendalinya ketika berkecepatan super maksimal tanpa arah, yang bisa selalu memberikan nasihat di saat ku butuh nasihat.
Saat ini ku sedang mengeja arti dewasa, yang diidentikkan dengan pengorbanan. Mengerti dan memahami orang lain bukan hal yang mudah, dengan orang yang kita kenal saja terkadang sangat sulit dan salah faham, apalagi dengan orang-orang yang baru saja kita kenal (red-suami, mertua...) Semoga suamiku adalah seseorang yang bisa menenangkanku, tidak membentakku, dan jadi kakak terbaik untukku, mengerti dan memahamiku, meski akupun punya tanggung jawab begitu nanti. Semoga kesabaran yang sedang kueja dengan agak terbata ini bisa menjadi akhlaqku dan keluarga yang kubangun suatu saaat nanti..insya Allah..dan hingga Allah berkenan menjemputku..
Proses Menikah menurut ust. Reza M., Syarif ada tiga tahapan:
10 tahun pertama –belum keluar sifat aslinya ,makanya butuh plan yang jelas tentang keluarga yang akan kubangun
10 tahun kedua –adaptasi dengan lingkungan suami-butuh persiapan matang
10 tahun ketiga-menikmati prestasi bersama yang diupayakan bersama suami..insya Allah..
Sedangkan untuk pendidikan anak ada 5 bekal yang harus ditanamkan kepada mereka:
1. Fathonah (Intelektual yang ditanmkan melaui budaaya baca)
2. Amanah (pengajaran akhlak dan kejujuran secara total kepada anak)
3. Sidiq (kebenaran pemaknaan spiritual..aqidah, ibadah, muamalah, dan inti muwashofat)
4. Tabligh (Komunikasi yang sehat yang harus dibangun antara orang tua, anak, dan keluarga, serta masyarakat, mendidik mereka menjadi manusia yang peka social.ada 5 aspek yang harus ada : observasi, mendengar, berbicara, menulis, membaca)
5. Motivasi
(Purnastri Afif Adiba)
Tulisan disampaikan kepada calon suami saat proses ta'aruf
Harapan yang pernah terukir di awal kedewasaan hidup mulai menyapa kekosongan jiwa adalah, jika aku punya suami, aku ingin suami yang dekat dengan Allah, takut kepada Allah, anti maksiat, bacaan Qur’an dan tahsin, tahfidznya minimal 3juz biar bisa muraja’ah bareng, Qiyamullail tiap hari biar bisa saling mengingatkan dan jama’ah, bisa jadi partner yang bisa bekerjasama dengan baik, lelaki yang sabar, penuh rahmah, bijak, dewasa, tidak mudah main tangan, bentak juga jangan, yang bisa mengajariku mengeja kesabaran dalam bersikap dan bertutur, mau berbagi pekerjaan rumah tangga, sholat jama’ah 5 waktu di masjid menjadi komitmen, satu misi melahirkan generasi qur’ani dan rabbani, trus pengen punya suami yang pinter Bahasa Arab pengen belajar intensif belum sempat. Itu idealita teknis yang ingiin sekali kuwujudkan. Semakin luas ketika kuselesaikan membaca Ada Cinta di Rumah Hasan Al-Banna
Trus punya cita2 bisa tahfidzul qur’an bareng, fastabiqul khoirot, dekat dengan lingkungan qur’ani punya komunitas sholih..jika belum ada ya diperjuangkan bisa membangun, trus pengen punya pesantren, pasti kangen dengan jadi aktifitas da’wah sekolah, ngurus anak-anak SMA atau SMP..sudah terbayang konsepnya tapi belum tertulis jelas tapi sekarang sedang belajar mengeja dinamika pesantren, dan bagaimana mengelolanya dengan maksimal.
Aku gadis biasa yang punya banyak kekurangan, tak pantas rasanya jika minta diberikan yang paling sempurna, aku hanya mensyaratkan iman, qur’an, keistiqomahan, iltizam, dan kedewasaan, serta cita-cita yang panjang hingga berujung di akhirat..
Aku ingin dan berharap keluarga yang kubangun nanti adalah keluarga qur’ani, keluarga yang menjadi syurga di dunia, suami yang menempatakan Allah di atas segalanya, tawadhu’, ikhlash, dan bukan orang yang emosional, yang selalu bisa menjadi imam bagiku dalam Al-Qur’an, yang ilmu akhiratnya lebih luas dariku, dan bisa menghargai kerja-kerja jihadku di lapangan da’wah.
Fisik bukan jadi standart utamaku, yang kulihat adalah kualitas pribadi sesosok yang akan kuterima dalam hidupku. Setiap orang pasti punya kekurangan, punya kelebihan, dan semuanya adalah karunia Allah yang terbaik bagi kita. Satu yang sama sekali tidak kuinginkan adalah terjun ke dunia politik secara terang-terangan maksudnya masuk ke legislative apapun alasannya lulusan sosiologi sekalipun aku tidak pernah punya keinginan ke sana, banyak amanah yang Allah lebih janjikan syurga, terlalu banyak cobaan dan godaan untuk hubbuddunya ketika memasukinya, ditambah lagi dimana peranku sebagai ibu akan kutempatkan jika semua waktuku kuhabiskan di luar rumah?
Harapanku, semoga ku bisa jadi ummi para mujahid dan mujahidah, mendidik mereka dengan hati dan Al-Qur’an, dan ku berharap suamiku adalah imam bagiku dalam hal ini, suami yang selalu bisa terbuka dalam semua kondisi hidupnya, mau berbagi beban, terbuka dalam segala hal, menguatkan komunikasi, dan penuh kasih sayang, dan mau menerima kekuranganku. Manjadikanku sayap kirinya ketika terbang, dan menjadi rem kendalinya ketika berkecepatan super maksimal tanpa arah, yang bisa selalu memberikan nasihat di saat ku butuh nasihat.
Saat ini ku sedang mengeja arti dewasa, yang diidentikkan dengan pengorbanan. Mengerti dan memahami orang lain bukan hal yang mudah, dengan orang yang kita kenal saja terkadang sangat sulit dan salah faham, apalagi dengan orang-orang yang baru saja kita kenal (red-suami, mertua...) Semoga suamiku adalah seseorang yang bisa menenangkanku, tidak membentakku, dan jadi kakak terbaik untukku, mengerti dan memahamiku, meski akupun punya tanggung jawab begitu nanti. Semoga kesabaran yang sedang kueja dengan agak terbata ini bisa menjadi akhlaqku dan keluarga yang kubangun suatu saaat nanti..insya Allah..dan hingga Allah berkenan menjemputku..
Proses Menikah menurut ust. Reza M., Syarif ada tiga tahapan:
10 tahun pertama –belum keluar sifat aslinya ,makanya butuh plan yang jelas tentang keluarga yang akan kubangun
10 tahun kedua –adaptasi dengan lingkungan suami-butuh persiapan matang
10 tahun ketiga-menikmati prestasi bersama yang diupayakan bersama suami..insya Allah..
Sedangkan untuk pendidikan anak ada 5 bekal yang harus ditanamkan kepada mereka:
1. Fathonah (Intelektual yang ditanmkan melaui budaaya baca)
2. Amanah (pengajaran akhlak dan kejujuran secara total kepada anak)
3. Sidiq (kebenaran pemaknaan spiritual..aqidah, ibadah, muamalah, dan inti muwashofat)
4. Tabligh (Komunikasi yang sehat yang harus dibangun antara orang tua, anak, dan keluarga, serta masyarakat, mendidik mereka menjadi manusia yang peka social.ada 5 aspek yang harus ada : observasi, mendengar, berbicara, menulis, membaca)
5. Motivasi
(Purnastri Afif Adiba)
Tulisan disampaikan kepada calon suami saat proses ta'aruf
Subscribe to:
Posts (Atom)